Profile YCPA

Marlina "Marlin" Yenny Sugama

Marlina "Marlin" Yenny Sugama

Terus berkarya demi mewujudkan 'Disney' Indonesia

Sejak kecil, Marlin bercita-cita ingin mendirikan sebuah perusahaan animasi sebesar Disney. Namun, karena tidak ingin mengcewakan orangtua, Marlin mengambil pendidikan formal yang tidak sesuai dengan cita-citanya. Namun, pada akhirnya, Marlin memang tak bisa menghindari panggilan passion-nya dan mendirikan sebuah perusahaan animasi pertama di Indonesia.

Pertama di Indonesia

“Saat ini, saya bekerja sebagai seorang enterpreneur di bidang creative digital content. Perusahaan saya menghasilkan berbagai materi digital seperti animasi, web-comic, games dan beragam aplikasi dengan tujuan menghibur.

“Saya mulai berkecimpung dalam pekerjaan ini di tahun 2001 ketika design game yang saya buat bersama beberapa teman mendapatkan “angel investor” yang mau mendanai berdirinya perusahaan saya yang pertama. Di akhir tahun 2006, saya menjual perusahaan tersebut dan memulai perusahaan baru yang lebih fokus pada kreatifitas yaitu Main Studios. Saat ini, Main Studios telah menjadi perusahaan penghasil intelectual property pertama di Indonesia, melalui tokoh “Hebring dan Dazu”.

“Saya sangat menikmati pekerjaan saya sekarang karena memang hobi. Saya suka main game, menonton film animasi, dan baca buku. Bisa mendapatkan penghidupan dari sesuatu yang saya sukai, sekaligus membuat orang lain terhibur, adalah pencapaian terbesar bagi saya,” cerita Marlin panjang lebar.

Minoritas Bukan Berarti Inferior

“Dunia digital animasi memang masih jarang dirambah oleh wanita, tetapi hal tersebut saya anggap sebagai keunggulan. Sebagai wanita yang bekerja di dunia maskulin, saya mendapatkan tantangan untuk selalu berpikir logis dan teknis, tidak semata mengandalkan emosi. Di sisi lain, karena wanita adalah “mahluk langka” di dunia ini, saya juga mendapatkan banyak kemudahan untuk mendapatkan segala sesuatunya.

“Minoritas secara jumlah bukan berarti wanita harus menjadi inferior. Pria dan wanita sama-sama manusia bekerja yang memiliki tantangan yang sama di dunia kerja, kita sama-sama harus membuktikan kredibilitas terhadap pemegang modal. Sebagai wanita, kita memiliki banyak kelebihan karena kita dianugerahi penampilan yang lebih indah dan cara komunikasi yang lebih lembut. Kita bisa menggunakan kelebihan tersebut untuk mencapai apa yang kita inginkan, a blessing in disguise, tinggal bagaimana kita menggunakannya.

“Menurut saya sendiri, akan lebih baik bila banyak wanita masuk ke bidang kerja digital ini karena sentuhan wanita akan menghasilkan produk yang lebih “humanly connected” dengan audiens. Jadi siapapun yang berminat mari bergabung.

“Makanya, selain untuk memperluas network dunia pekerjaan saya yang sangat maskulin (90% pria), saya mengikuti ajang YCPA dengan harapan dapat membangun network di dunia wanita,” jelas Marlin.

Mau Dikarantina Lagi

“Surprisingly, saya mendapatkan jauh lebih banyak dari yang saya harapkan. Selain pengetahuan dasar mengenai make up, memperbaiki penampilan dan cara merawat diri, saya mendapatkan “keluarga” baru di YCPA. Meskipun YCPA ini ajang kompetisi, di antara kedua puluh finalis, panitia, dan pihak lain yang terkait tidak ada hubungan negatif. Semuanya saling mendukung dan saling melengkapi. Seandainya ada karantina lagi, saya yakin kedua puluh finalis langsung jawab: MAU!”

“Dampak positif YCPA terhadap karier saya sendiri terjadi di beberapa layer. Secara external, teman-teman sekantor melihat adanya perubahan pada penampilan saya yang menurut mereka lebih feminin dan lebih cantik. Sampai-sampai, banyak yang minta untuk diajari make up di kantor.

“Di layer yang lebih dalam, YCPA dan semua orang-orang hebat yang terlibat di dalamnya, membuka pintu ke dunia yang sebelumnya luput dari perhatian saya. Contohnya: kegiatan YCPA bulan lalu ke RS Dharmais, untuk mengunjungi anak-anak yang menderita kanker. Ternyata dengan kehadiran tim YCPA di sana bukan hanya menghibur anak-anak tersebut, tapi juga menghibur ibu-ibu mereka yang pastinya sangat lelah menjaga anak-anak mereka.

“Cerita di atas, baru satu contoh dari salah satu kegiatan di YCPA. Selain itu, masih ada teman-teman dengan beragam latar belakang, seperti consultant marketing, personal finance, enterpreneurship, biotech, diplomat yang semuanya tergabung dalam keluarga besar YCPA dan siap membantu untuk meningkatkan kualitas hidup wanita bekerja. Bisa terbayang, kan, sebuah dunia baru yang terbuka untuk saya setelah mengikuti YCPA,” cerita Marlin.

Caring Colours di Mata Marlin

“Caring dual action cake adalah bedak compact pertama saya. Saya menggunakan bedak tesebut sejak belajar make up di SMP. Karena cocok dan tidak menyebabkan alergi, saya pakai terus.

“Sekarang, bukan hanya Dual action cake, tetapi saya juga menggunakan lipstick, blush-on, dan eye shadow. Favorit saya tetap dual action cake karena memberikan kesan fresh pada make up dan senjata ampuh menutupi mata lelah pada saat touch up, terutama pada saat harus menghadiri acara setelah hari kerja yang panjang,” ujar Marlin.
 

YCPA 2011

Anita Feng

Anita Feng

Marketing Manager Consumer

 
   
 
 
Cindy Sally Edina

Cindy Sally Edina

Financial Consultant

 
   
 
 
Deborah Dewi, SiP, CG

Deborah Dewi, SiP, CG

Graphologist (Handwriting Analyst), Business Development Associate Partner & Personal Brand Manager

 
   
 
 
Fibriyani Elastria

Fibriyani Elastria

Vice President of Corporate Branding, Marketing & Communication

 
   
 
 
Kartika Hariyani

Kartika Hariyani

Diplomat

 
   
 
 
Marlina "Marlin" Yenny Sugama

Marlina "Marlin" Yenny Sugama

Producer/Writer

 
   
 
 
Pradita Astarina

Pradita Astarina

Analyst in President’s Delivery Unit for Development Monitoring and Oversight

 
   
 
 
Riezka Rahmatiana

Riezka Rahmatiana

owner CV Riezka giga pratama & Founder Justmine pisang ijo

 
   
 
 
Rinny

Rinny

Senior Consultant Accenture